MAKASSAR, HALAMANINDONESIA.COM – Setiap Jumat pagi di Kelurahan Baji Mappakasunggu, Kecamatan Mamajang, suasana gang-gang sempit terasa sedikit berbeda. Para kader Posyandu berjalan menyusuri lorong sambil membawa keranjang kecil berisi telur. Mereka bukan sekadar membagikan bahan makanan—mereka membawa harapan.
Harapan itu bernama “Jumat Mulia Sare Bayao”, sebuah program sederhana namun penuh makna yang diluncurkan pada 17 Oktober 2025 lalu. Sare Bayao, dalam dialek setempat, berarti “berbagi telur”. Dan dari sebutan yang sangat sederhana itulah lahir inisiatif yang menyasar persoalan besar: stunting.
Di wilayah ini, masih ada anak-anak yang tubuhnya lebih pendek dari usianya, yang pertumbuhannya melambat, dan yang membutuhkan asupan gizi lebih baik agar dapat tumbuh optimal. Program ini memberikan satu butir telur gratis setiap hari Jumat kepada anak-anak yang terdata mengalami stunting. Sederhana, tetapi penuh nilai.
Telur yang Menjadi Simbol Kepedulian
Lurah Baji Mappakasunggu, Abdul Rasyid Sahrul, adalah sosok di balik gagasan ini. Baginya, intervensi tidak harus rumit untuk bisa berdampak.
“Telur itu mudah didapat, murah, tapi gizi lengkapnya luar biasa untuk anak-anak kita,” ujarnya saat ditemui Sabtu (15/11/2025). “Yang penting itu konsisten. Dan konsistensi ini butuh kebersamaan.”
Kebersamaan itulah yang kemudian menjadi kekuatan utama program ini. Pembagian telur tidak dilaksanakan oleh pemerintah kelurahan seorang diri. Ia melibatkan Kader Posyandu, PjS RT/RW, para donatur lokal, dan warga yang tergerak hatinya.
Setiap Jumat, kader berjalan dari rumah ke rumah. Mereka menyapa, mendengarkan keluhan ibu-ibu, sekaligus memastikan anak-anak penerima manfaat benar-benar mendapatkan asupan yang dibutuhkan.

Kisah di Balik Pintu-Pintu Rumah
Di sebuah rumah kecil, seorang ibu muda menerima telur itu sambil tersenyum. Anaknya yang masih balita, salah satu dari puluhan penerima manfaat, kini mulai menunjukkan kenaikan berat badan.
“Alhamdulillah, setiap Jumat kami tunggu,” ucap sang ibu penuh haru. “Kadang kami kesulitan beli makanan bergizi. Tapi telur ini sangat membantu.”
Di rumah lain, seorang ibu hamil menerima telur sambil mengusap perutnya. Program ini juga menyasar ibu hamil dan ibu yang baru melahirkan, agar kebutuhan gizi mereka terpenuhi sehingga kesehatan ibu dan bayinya lebih terjaga.
Bahkan ada nenek lanjut usia yang menerima bantuan tambahan berupa sembako dan uang tunai dari donatur pada pekan ketiga. “Terima kasih nak… semoga rezekita dilipatgandakan,” katanya sambil menahan air mata.
Setiap interaksi sederhana itu menjadi benang-benang yang merajut kebersamaan di kelurahan kecil ini.
Kolaborasi yang Menghidupkan Program
Menurut Abdul Rasyid, keberhasilan program ini justru terletak pada partisipasi warga. Program ini bukan sekadar urusan pemerintah, melainkan gerakan kolektif masyarakat.
“Kader Posyandu dan PjS RT/RW adalah kunci. Tanpa mereka, program ini tidak mungkin berjalan,” tegas Lurah.
Telur-telur yang dibagikan bukan hanya berasal dari dana kelurahan, tetapi juga sumbangan warga yang ingin berbagi. Ada pengusaha kecil yang menyumbang satu rak telur. Ada pensiunan yang membagikan sebagian pensiunnya untuk membeli telur bagi balita stunting. Ada ibu rumah tangga yang menyisihkan sedikit belanja mingguannya.
Program ini sudah berjalan tiga pekan, mulai 24 Oktober hingga 14 November 2025. Dan setiap pekan, jumlah warga yang ingin ikut berdonasi—sekecil apa pun—terus bertambah.
Lebih dari Telur: Tentang Harapan
Pada pekan ketiga, program ini berkembang. Selain telur, warga juga menerima sembako dan bantuan uang tunai dari donatur untuk mereka yang paling membutuhkan: lansia, bayi stunting, dan warga miskin yang sedang sakit atau mengalami patah tulang.
Semua bantuan itu mungkin tampak kecil bagi sebagian orang. Namun bagi mereka yang menerimanya, bantuan itu adalah pengingat bahwa mereka tidak sendirian.
“Kami ingin program ini terus berjalan. Tidak hanya memberi telur, tetapi memberi harapan bahwa kita adalah keluarga besar yang saling menjaga,” tutup Abdul Rasyid Sahrul.
Di lorong-lorong kecil Kelurahan Baji Mappakasunggu, setiap Jumat pagi bukan lagi sekadar rutinitas. Ini adalah hari ketika kepedulian disalurkan, pintu-pintu diketuk, dan hati-hati disentuh. Sebuah bukti bahwa upaya menurunkan stunting tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar—kadang cukup dari satu butir telur dan keikhlasan untuk berbagi.



