Diplomasi Taruna Ikrar di Beijing: Integrasi Sains & Potensi 30.000 Herbal Indonesia

BEIJING, HALAMANINDONESIA.COM – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Prof. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., memimpin delegasi resmi dalam misi diplomasi kesehatan global ke Beijing, Tiongkok.

Misi ini menegaskan peran strategis Indonesia dalam mendorong integrasi ilmu modern dan pengobatan tradisional, sekaligus membuka potensi ekonomi dari kekayaan 30.000 spesies herbal Indonesia.

Prof. Taruna Ikrar, didampingi Deputi I BPOM RI dr. William Adi Teja dan Kepala Biro Kerja Sama dan Humas (KSH) Lynda Kurnia Wardhani, Ph.D., menghadiri “China–Indonesia Forum on Bilateral Cooperation and Strategic Development in Traditional Medicine.”

Memperkuat Kolaborasi Bilateral

Forum tersebut menjadi platform penting untuk memperkuat kolaborasi bilateral antara Indonesia dan Tiongkok di bidang obat tradisional berbasis penelitian ilmiah. Sebelum forum utama, Prof. Taruna juga mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh terkemuka pengobatan tradisional Tiongkok, termasuk Zhao Changlong, Tong Xiaoying, Wang Heping, Prof. Liu Ying dari Beijing University of Chinese Medicine, dan Wang Xing.

Pertemuan ini berfokus pada:

  • Peluang penelitian bersama di bidang herbal.
  • Pertukaran tenaga ahli dan ilmuwan.
  • Harmonisasi standar keamanan dan pembuktian khasiat obat herbal.

Kolaborasi ini menandai langkah strategis Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai mitra kunci dalam diplomasi sains dan inovasi kesehatan global.

Herbal sebagai Modal Diplomasi Ekonomi

Selepas forum, delegasi BPOM diterima oleh Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, di KBRI Beijing. Kedua pihak membahas strategi untuk:

  • Memperkuat diplomasi ekonomi dan inovasi kesehatan.
  • Mendorong promosi ekspor herbal Indonesia.
  • Penyelarasan regulasi dengan otoritas kesehatan Tiongkok.

Indonesia, sebagai negara mega-biodiversity, memiliki lebih dari 30.000 spesies tanaman obat. Potensi kekayaan alam ini diyakini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga modal diplomasi ekonomi global yang strategis.

“Diplomasi kesehatan tidak hanya soal obat dan regulasi, tetapi juga tentang pertukaran pengetahuan, nilai, dan budaya ilmiah antarbangsa,” ujar Prof. Taruna Ikrar.

“Herbal Indonesia bukan sekadar identitas budaya, melainkan energi baru diplomasi global simbol harmoni antara alam, sains, dan kemanusiaan,” tambahnya, menekankan bahwa kekayaan herbal Nusantara siap dikembangkan dari warisan tradisi menjadi komoditas berdaya saing global melalui riset yang kuat dan regulasi yang kredibel.

Misi BPOM di Beijing ini disebut Taruna Ikrar sebagai arah baru: “Menjulang, Membumi, dan Mengakar,” yakni menjulang dalam sains, membumi dalam kebijakan publik, dan mengakar pada kearifan lokal Nusantara, demi memastikan herbal Indonesia berkontribusi bagi dunia yang lebih sehat dan berdaulat secara ilmiah.

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *