MAKASSAR, HALAMANINDONESIA.COM – Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, resmi menjajaki kerja sama pengelolaan sampah dengan Pemerintah Kota Makassar.
Hal ini ditandai dengan kunjungan Bupati Sigi, Mohammad Rizal Intjenae, kepada Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di Balai Kota Makassar, Jumat (2/1/2026).
Bupati Rizal Intjenae menyatakan ketertarikannya mereplikasi sistem pengelolaan sampah Makassar yang dinilai sudah matang dari hulu ke hilir. Fokus utama kunjungan ini adalah mempelajari inovasi Gerakan Mengelola Sampah (GEMA) yang berhasil mengubah sampah plastik menjadi komoditas bernilai ekonomi.
“Kami ingin menjajaki kerja sama karena industri pengolahan sampah plastik di Makassar sudah matang. Di Sigi, kami punya lahan TPA 40 hektare, namun pengelolaannya masih mentah. Kami ingin sampah plastik di sana bisa menambah pundi-pundi pendapatan bagi petugas kebersihan,” ujar Rizal.
Ia menambahkan, meski volume sampah plastik di Sigi hanya berkisar 1-2 ton, pengolahan yang tepat diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan ekonomi lokal.
Sistem Terintegrasi hingga Tingkat RT Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyambut baik rencana kolaborasi tersebut. Ia memaparkan bahwa Makassar kini tengah menggalakkan sistem pengolahan sampah organik berbasis masyarakat di tingkat Rukun Tetangga (RT).
“Untuk organik, setiap RT akan punya sistem pengolahan sendiri menggunakan metode komposter, eco-enzyme, hingga budidaya maggot. Hasilnya langsung diserap untuk mendukung pertanian perkotaan (urban farming), peternakan ayam, dan perikanan,” urai Munafri.
Selain pengolahan sampah, Munafri juga menekankan pentingnya edukasi pemilahan sampah di ruang publik dan sekolah. Ia bahkan mendorong petugas kebersihan untuk mengelola sampah daun menjadi kompos yang dapat mereka jual sebagai penghasilan tambahan.
Peluang Industri Hijau Dalam pertemuan tersebut, Munafri juga menyarankan pengembangan industri pengolahan plastik di Sulawesi Tengah guna memangkas biaya logistik. Menurutnya, Sigi dan wilayah sekitarnya memiliki potensi besar karena didukung oleh sumber energi ramah lingkungan.
“Sulawesi Tengah punya potensi PLTA yang murah dan masuk kategori energi hijau. Ini kunci pengembangan industri masa depan melalui skema carbon trading,” pungkasnya.
Pertemuan ini diharapkan segera berlanjut ke tahap teknis, termasuk kunjungan balasan pihak Pemkot Makassar ke Kabupaten Sigi untuk mempertemukan investor dengan pemerintah setempat.

