BANDUNG, HALAMANINDONESIA.COM – Ratusan anak muda di Kota Bandung menyerukan pentingnya aksi kolektif untuk menjaga keanekaragaman hayati atau biodiversitas perkotaan. Seruan tersebut mengemuka dalam penutupan Pameran BiodiverCity: Revealing Wildlife Around Us, yang menjadi bagian dari kampanye publik untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ruang hidup satwa dan tumbuhan di kawasan perkotaan.
Kegiatan yang berlangsung selama sembilan hari ini diselenggarakan oleh Yayasan Pilar Tunas Nusa Lestari bersama Yayasan KEHATI. Pameran tidak hanya menjadi ruang edukasi, tetapi juga mendorong lahirnya gerakan kolaboratif, khususnya di kalangan generasi muda, dalam menjaga kelestarian lingkungan di tengah pesatnya pembangunan kota.
Kota Sehat Harus Ramah bagi Seluruh Makhluk Hidup
Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI, Christian Natalie, mengatakan kota yang sehat tidak hanya dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga harus menyediakan ruang hidup bagi berbagai spesies tumbuhan dan satwa.
Menurutnya, keberadaan burung, serangga, amfibi, reptil, hingga vegetasi di kawasan perkotaan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Banyak orang menganggap kota hanya milik manusia. Padahal sebelum kota berkembang, berbagai spesies tumbuhan dan satwa telah lebih dahulu hidup di ruang yang sama. Jika biodiversitas terus terdesak, pada akhirnya manusia juga yang akan kehilangan kualitas hidupnya,” ujarnya.
Ribuan Pohon Ditanam di Ruang Terbuka Hijau Bandung
Melalui Program Urban Biodiversity, Yayasan KEHATI bersama Yayasan Pilar Tunas Nusa Lestari terus memperkuat upaya pemulihan keanekaragaman hayati di kawasan perkotaan.
Sejak 2024, program tersebut telah menanam 3.633 pohon dan tanaman dari 91 jenis di 10 ruang terbuka hijau dan biru Kota Bandung. Lokasi penanaman meliputi Kolam Retensi Rancabolang, Rumah Deret Tamansari, hingga SMAN 27 Bandung.
Program itu juga melibatkan 61 lembaga dengan partisipasi 1.619 peserta, yang sebagian besar merupakan generasi muda. Keterlibatan mereka dinilai penting karena akan menjadi kelompok yang menghadapi dampak krisis lingkungan di masa mendatang sekaligus berperan sebagai agen perubahan.
Citizen Science Dorong Partisipasi Warga
Selama pameran berlangsung, pengunjung diajak mengenal berbagai jenis flora dan fauna perkotaan melalui hasil pendataan yang menggunakan pendekatan citizen science. Metode ini memungkinkan masyarakat ikut terlibat dalam pengumpulan data dan pemantauan kondisi lingkungan secara langsung.
Rangkaian penutupan diawali dengan kegiatan BiodiverCity Walk: Jelajah Taksa di kawasan Taman Pramuka. Peserta kemudian mengikuti Rembug Orang Muda untuk Aksi Kolektif Jaga Lingkungan, forum yang mempertemukan pelajar, mahasiswa, komunitas, serta pegiat lingkungan untuk menyusun gagasan pelestarian alam perkotaan.
Kolaborasi Jadi Kunci Kota Berkelanjutan
Direktur Program Yayasan KEHATI, Rony Megawanto, menegaskan bahwa pembangunan kota yang tangguh terhadap perubahan iklim memerlukan kerja sama lintas sektor.
Menurutnya, pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan generasi muda harus bergerak bersama agar pembangunan tetap berjalan seiring dengan pelestarian keanekaragaman hayati.
Ia berharap forum tersebut menjadi awal terbentuknya jejaring aksi orang muda yang secara berkelanjutan mendorong pelestarian ruang hijau, edukasi lingkungan, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga biodiversitas perkotaan.
Melalui kegiatan BiodiverCity, penyelenggara berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keanekaragaman hayati terus meningkat. Biodiversitas dinilai bukan sekadar pelengkap lanskap kota, melainkan fondasi penting bagi kesehatan lingkungan, ketahanan terhadap perubahan iklim, dan kualitas hidup masyarakat.

