HALAMANINDONESIA.COM – Pasar aset kripto diperkirakan masih bergerak fluktuatif sepanjang Juli 2026. Sejumlah analis menilai tekanan dari arus keluar dana ETF Bitcoin, ketidakpastian regulasi, serta kondisi ekonomi global masih menjadi faktor utama yang membatasi penguatan harga aset digital.
Analis Citigroup (Citi Research) memangkas proyeksi harga Bitcoin dalam 12 bulan ke depan dari US$112.000 menjadi US$82.000. Sementara itu, proyeksi Ethereum juga diturunkan dari US$3.175 menjadi US$2.240. Revisi tersebut dilakukan setelah Citi melihat minat investor institusional melemah akibat arus keluar ETF Bitcoin yang terus berlanjut dan lambatnya perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat.
Menurut laporan Citi, pasar membutuhkan katalis baru agar Bitcoin dapat kembali memasuki tren bullish. Tanpa sentimen positif tersebut, pergerakan Bitcoin diperkirakan masih cenderung berkonsolidasi sepanjang Juli.
Selain Citi, analis pasar dari 24/7 Wall St. juga memprediksi Bitcoin masih akan bergerak dalam fase sideways setelah menutup paruh pertama 2026 di kisaran US$60.000. Mereka menilai arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan arus investasi ETF akan menjadi faktor penentu pergerakan harga pada bulan ini.
Ethereum diperkirakan mengalami kondisi serupa. Meski pengembangan jaringan terus berjalan, investor masih menunggu peningkatan aktivitas ekosistem dan masuknya modal baru sebelum kembali mendorong harga ETH naik secara signifikan.
Di sisi lain, sejumlah altcoin seperti Chainlink (LINK), Sui (SUI), Ondo (ONDO), dan Render (RNDR) dinilai memiliki prospek menarik karena pengembangan proyek yang terus berlangsung. Namun, para analis mengingatkan bahwa performa altcoin tetap sangat bergantung pada arah pergerakan Bitcoin sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar.
Analis juga mengingatkan investor agar lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi selama Juli 2026. Strategi diversifikasi portofolio, manajemen risiko, dan fokus pada proyek dengan fundamental kuat dinilai lebih penting dibanding mengejar keuntungan jangka pendek di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
