MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM — Percakapan sederhana di loket pelayanan publik masih bisa menjadi tembok komunikasi bagi penyandang tunarungu. Mereka memahami pesan yang disampaikan, tetapi tidak selalu dapat menyampaikan respons dengan mudah kepada masyarakat umum.
Berangkat dari persoalan tersebut, lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menghadirkan inovasi teknologi bernama AmertaSign, sebuah aplikasi penerjemah bahasa isyarat dua arah berbasis kecerdasan buatan (AI).
Tim tersebut terdiri atas Andi Syafiqah Ramadhani sebagai ketua, bersama Andi Akbar Arya Putra, Muh Asad Habib, Tiara Nabila Rajab, dan Sri Hasriani. Mereka mengembangkan aplikasi tersebut di bawah bimbingan dosen pendamping Chyquitha Danuputri, S.Kom., M.Kom.
Menurut Andi Syafiqah, keterbatasan akses komunikasi masih menjadi tantangan bagi penyandang tunarungu di Indonesia. Karena itu, timnya berupaya menghadirkan teknologi yang dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih mudah dan setara.
“Berangkat dari permasalahan ini, kami merancang aplikasi penerjemah bahasa isyarat dua arah bernama AmertaSign. Aplikasi ini kami rancang untuk membantu penyandang tunarungu berkomunikasi secara lebih mandiri dengan masyarakat umum,” ujar Andi Syafiqah, Sabtu (22/8), di Kampus Unismuh Makassar.
Manfaatkan AI untuk Kenali Gerakan Tangan
Lebih lanjut, Andi Syafiqah menjelaskan bahwa tim mengembangkan AmertaSign karena hambatan komunikasi verbal sering kali menyulitkan penyandang tunarungu ketika mengakses layanan publik, pendidikan, maupun berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, kebutuhan terhadap layanan yang lebih inklusif semakin penting seiring dengan kebijakan pemerintah mengenai pelayanan publik yang ramah terhadap kelompok rentan.
Dalam pengembangannya, AmertaSign memanfaatkan sejumlah teknologi, salah satunya MediaPipe Hands. Teknologi tersebut membantu aplikasi melacak gerakan tangan pengguna secara real-time melalui kamera smartphone.
Selanjutnya, sistem memproses hasil pelacakan menggunakan kecerdasan buatan untuk mengenali kosakata dasar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Setelah itu, aplikasi menampilkan hasil penerjemahan dalam bentuk teks dan membacakannya melalui fitur Text-to-Speech.
“Aplikasi ini memanfaatkan teknologi seperti MediaPipe Hands untuk melacak gerakan tangan pengguna secara real-time melalui kamera smartphone. Hasil pelacakan kemudian diproses menggunakan kecerdasan buatan untuk mengenali kosakata dasar BISINDO yang selanjutnya ditampilkan dalam bentuk teks dan dibacakan melalui fitur Text-to-Speech,” jelasnya.
Tak Hanya Menerjemahkan Bahasa Isyarat
Menariknya, AmertaSign tidak hanya menerjemahkan gerakan tangan menjadi teks atau suara. Aplikasi tersebut juga menyediakan alur komunikasi dari arah sebaliknya.
Dengan fitur Speech-to-Text, masyarakat umum dapat berbicara atau mengetik pesan. Selanjutnya, sistem mengubah komunikasi tersebut menjadi teks yang dapat dibaca oleh pengguna tunarungu.
Dengan demikian, AmertaSign mencoba membangun komunikasi dua arah antara penyandang tunarungu dan masyarakat umum. Selain fitur penerjemahan, aplikasi ini juga menyediakan kamus digital BISINDO.
Kehadiran kamus tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi. Masyarakat umum dapat mempelajari bahasa isyarat sehingga pemahaman terhadap komunikasi dengan penyandang tunarungu semakin luas.
Didanai Program Kreativitas Mahasiswa
Pengembangan AmertaSign mendapat dukungan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) skema Karsa Cipta (PKM-KC) di bawah naungan Kemendiktisaintek.
Bagi tim mahasiswa Unismuh Makassar, AmertaSign bukan sekadar proyek teknologi. Lebih dari itu, aplikasi tersebut menjadi upaya untuk mendorong komunikasi yang lebih inklusif melalui pemanfaatan kecerdasan buatan.
Andi Syafiqah menyebut AmertaSign mungkin masih menjadi langkah kecil. Namun, menurutnya, inovasi tersebut membawa pesan besar bahwa inklusivitas tidak cukup hanya menjadi wacana.
“AmertaSign mungkin baru langkah kecil dari kampus biru di Makassar. Akan tetapi, ini membawa pesan besar bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana, melainkan sesuatu yang bisa dirancang, di-coding, dan dijalankan,” katanya.
Karena itu, tim berharap pengembangan AmertaSign dapat terus berlanjut sehingga teknologi tersebut semakin matang dan mampu memberikan manfaat nyata bagi penyandang tunarungu.
Dosen Pendamping Apresiasi Inovasi Mahasiswa
Sementara itu, dosen pendamping Chyquitha Danuputri, S.Kom., M.Kom., mengapresiasi upaya mahasiswa bimbingannya dalam mengembangkan teknologi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Ia berharap proses pengembangan dan penelitian AmertaSign dapat berjalan dengan baik sehingga inovasi tersebut memberikan manfaat yang lebih luas.
“Mudah-mudahan penelitian ini bisa berjalan dengan lancar,” ujarnya.
Pada akhirnya, AmertaSign menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi AI untuk menjawab persoalan sosial. Dari Makassar, inovasi tersebut membawa gagasan sederhana: satu gestur, satu suara, dan satu langkah menuju komunikasi yang lebih setara. (***)






