Land4Lives Serahkan Hasil Lima Tahun kepada Pemprov Sulsel

MAKASSAR, HALAMANINDONESIA.COM – Proyek riset-aksi Land4Lives menutup kegiatan di Sulawesi Selatan setelah berjalan selama lima tahun. ICRAF Indonesia menyerahkan berbagai capaian dan rekomendasi proyek kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam Dialog Multipihak “Jejak Kolaborasi Land4Lives di Sulawesi Selatan” di Makassar, Kamis (8/10/2026).

ICRAF Indonesia, yang kini menggunakan nama operasional Landscape Alliance, menggelar kegiatan tersebut bersama Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan. Agenda ini menjadi momentum penutupan sekaligus serah terima hasil kerja kepada pemerintah daerah, mitra, dan masyarakat.

Land4Lives merupakan proyek kerja sama perubahan iklim yang mendapat dukungan Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada. Di Sulawesi Selatan, kerja sama dengan pemerintah daerah dimulai pada 2021, sedangkan kegiatan lapangan berlangsung sejak 2022.

Selama lima tahun, Land4Lives menjalankan program di tiga tingkat, yakni desa, bentang lahan, dan provinsi. Di Kabupaten Bone, proyek mendampingi 12 desa percontohan. Mitra lokal SCF dan LPMI juga mendampingi 24 desa lainnya.

Lebih dari 700 orang mengikuti pelatihan pertanian cerdas iklim. Lebih dari separuh peserta merupakan perempuan. Program juga mendorong pengembangan kebun belajar agroforestri dan tambak wanamina.

Selain itu, lebih dari 500 rumah tangga mengelola kebun dapur untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Sebanyak 34 kelompok usaha agroforestri juga mendapat pendampingan hingga mengurus NIB, P-IRT, dan sertifikat halal.

Land4Lives turut mengembangkan enam Tapak Percontohan Pertanian Cerdas Iklim (TP2CI) yang dikelola lebih dari 120 petani pelopor. Pembelajaran dari tapak tersebut mencakup agroforestri kakao hingga integrasi pertanian dan perikanan.

Pada tingkat bentang lahan, proyek bersama Kelompok Kerja Bentang Lahan dan Forum DAS Sulawesi Selatan menyusun Rencana Pengelolaan DAS Bila Walanae seluas 744.896 hektare. Rencana tersebut kini telah disahkan.

Di Kabupaten Bone, program juga menghasilkan kurikulum muatan lokal “Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim”. Kurikulum itu telah disahkan melalui Peraturan Bupati dan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2026/2027 di seluruh SD dan SMP.

Sementara di tingkat provinsi, prinsip ketahanan iklim, ekonomi hijau-biru, dan indikator sensitif gender masuk dalam RPJPD 2025–2045 serta RPJMD 2025–2029 Sulawesi Selatan.

Land4Lives juga mendampingi penyusunan Rencana Induk dan Peta Jalan Pertumbuhan Ekonomi Hijau. Proyek mengembangkan sistem SiAlam untuk mendukung akses perhutanan sosial yang kini berjalan di server Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam kegiatan penutupan, ICRAF menyerahkan laporan capaian Land4Lives kepada Pemprov Sulsel yang diwakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kasman. Laporan tersebut memuat hasil program serta rekomendasi tindak lanjut.

Direktur ICRAF Indonesia sekaligus Koordinator Proyek Land4Lives, Andree Ekadinata, mengatakan berakhirnya pendampingan bukan berarti seluruh kerja berhenti.

“Bagi kami, berakhirnya pendampingan Land4Lives di tahun 2026 ini bukanlah sebuah garis akhir. Ini adalah penyerahan tongkat estafet,” kata Andree.

Menurutnya, instrumen perencanaan, sistem pengetahuan, dan jejaring kelembagaan yang dibangun selama proyek kini menjadi modal bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk melanjutkan kerja tersebut.

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *