Kuliah di PTS Bukan Pilihan Kedua, Universitas Wira Bhakti Makassar Tegaskan Mutu Pendidikan Terus Meningkat

MAKASSAR, HALAMANINDONESIA.COM – Pandangan bahwa perguruan tinggi swasta (PTS) merupakan pilihan kedua setelah perguruan tinggi negeri (PTN) masih berkembang di sebagian masyarakat. Namun, kondisi pendidikan tinggi di Indonesia terus berubah. Kini, banyak PTS mampu menunjukkan kualitas akademik yang setara, bahkan dalam sejumlah aspek mampu bersaing dengan PTN melalui penguatan sumber daya manusia, penelitian, inovasi, serta kerja sama internasional.

Rektor Universitas Wira Bhakti Makassar, Dr Ir Abdul Haris SE MM, menilai masyarakat perlu melihat kualitas sebuah perguruan tinggi secara lebih objektif. Menurutnya, status negeri atau swasta bukan lagi faktor utama yang menentukan mutu pendidikan, melainkan komitmen institusi dalam menjaga standar akademik dan menghasilkan lulusan yang kompeten.

“Sudah saatnya masyarakat menghilangkan stigma bahwa kuliah di perguruan tinggi swasta merupakan pilihan kedua. Saat ini banyak PTS yang memiliki kualitas akademik, dosen, fasilitas, dan sistem pembelajaran yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi negeri,” kata Abdul Haris.

Ia menjelaskan, perkembangan dunia pendidikan tinggi mendorong seluruh perguruan tinggi untuk berkompetisi dalam meningkatkan kualitas. Oleh karena itu, baik PTN maupun PTS menghadapi tuntutan yang sama, yakni menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi, karakter, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.

Menurut Abdul Haris, indikator kualitas perguruan tinggi saat ini tidak lagi hanya dilihat dari jumlah peminat atau status institusi. Sebaliknya, masyarakat perlu memperhatikan berbagai aspek lain, seperti akreditasi program studi, kompetensi dosen, produktivitas penelitian, kerja sama dengan dunia usaha dan industri, tingkat penyerapan lulusan, hingga rekam jejak alumni.

“Calon mahasiswa dan orang tua harus melihat kualitas secara menyeluruh. Kampus yang baik adalah kampus yang mampu membangun kompetensi mahasiswa, menyediakan lingkungan akademik yang sehat, serta mempersiapkan lulusan agar siap menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Universitas Wira Bhakti Makassar terus melakukan berbagai langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kampus memperkuat kurikulum berbasis kebutuhan industri, meningkatkan kapasitas dosen melalui pendidikan lanjutan dan pelatihan, serta mendorong lahirnya penelitian yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain itu, universitas juga memperluas kolaborasi dengan berbagai institusi pemerintah, dunia usaha, organisasi profesi, serta perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan mengikuti program magang, penelitian kolaboratif, pertukaran mahasiswa, hingga berbagai kegiatan pengembangan kompetensi.

Abdul Haris menegaskan bahwa dunia kerja saat ini lebih menitikberatkan pada kemampuan individu dibandingkan asal perguruan tinggi semata. Perusahaan membutuhkan lulusan yang mampu berpikir kritis, bekerja dalam tim, berkomunikasi dengan baik, serta memiliki kemampuan memecahkan masalah.

“Industri membutuhkan kompetensi. Oleh karena itu, mahasiswa harus fokus mengembangkan kemampuan selama kuliah. Ketika memiliki kompetensi yang baik, peluang untuk sukses akan terbuka lebih luas,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan lulusan tidak hanya ditentukan oleh nama besar kampus. Sebaliknya, kesungguhan mahasiswa dalam belajar, pengalaman organisasi, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus berkembang menjadi faktor yang sangat menentukan.

Karena itu, ia mengajak calon mahasiswa agar memilih perguruan tinggi berdasarkan kualitas program studi, kesesuaian dengan minat dan bakat, serta lingkungan akademik yang mendukung pengembangan diri.

“Jangan hanya melihat status negeri atau swasta. Pilihlah kampus yang mampu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang, berprestasi, dan mempersiapkan masa depan secara lebih baik,” ujarnya.

Abdul Haris juga menilai meningkatnya kualitas PTS menjadi kabar baik bagi dunia pendidikan Indonesia. Persaingan yang sehat antarkampus akan mendorong peningkatan mutu secara berkelanjutan sehingga mahasiswa memperoleh layanan pendidikan yang semakin berkualitas.

Ia optimistis, semakin banyak PTS yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Kondisi tersebut sekaligus membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan tinggi bermutu tanpa harus terpaku pada status perguruan tinggi.

Bagi calon mahasiswa, perkembangan tersebut menjadi momentum untuk lebih percaya diri dalam menentukan pilihan pendidikan. Orang tua pun diharapkan tidak lagi memandang PTS sebagai alternatif terakhir. Sebaliknya, mereka dapat menilai setiap perguruan tinggi berdasarkan capaian akademik, kualitas dosen, fasilitas pembelajaran, budaya riset, serta komitmen dalam mencetak lulusan yang unggul.

Menurut Abdul Haris, perubahan cara pandang masyarakat akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ketika setiap perguruan tinggi memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan menunjukkan prestasinya, ekosistem pendidikan tinggi nasional akan semakin kuat.

“Yang paling penting bukan apakah kampus itu negeri atau swasta, melainkan bagaimana kampus tersebut mampu mendidik mahasiswa menjadi lulusan yang berintegritas, kompeten, inovatif, dan siap memberikan kontribusi bagi bangsa,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan tinggi tidak ditentukan oleh status kelembagaan semata. Sebaliknya, kualitas lahir dari tata kelola yang baik, dosen yang profesional, kurikulum yang relevan, budaya akademik yang kuat, serta komitmen untuk terus berinovasi. Dengan fondasi tersebut, perguruan tinggi swasta memiliki peluang yang sama untuk mencetak lulusan berkualitas dan berdaya saing, sekaligus menghapus anggapan bahwa kuliah di PTS merupakan pilihan kedua.