MALANG, HALAMANINDONESIA.COM – Pemerintah Desa Lalombi dan Desa Tolongano, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan ekowisata berbasis konservasi. Upaya tersebut dilakukan melalui studi tiru pengelolaan ekowisata ke Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Kegiatan berlangsung pada 25–27 Agustus 2026 melalui Program SOLUSI yang dijalankan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia bersama Yayasan Bonebula Donggala. Peserta terdiri dari perwakilan pemerintah desa dan kelompok masyarakat dari Lalombi serta Tolongano.
Kedua desa memiliki potensi kawasan mangrove yang dapat dikembangkan menjadi destinasi ekowisata. Selain menawarkan daya tarik wisata, kawasan tersebut memiliki fungsi penting bagi lingkungan dan dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Belajar Langsung dari Pengelola CMC
Selama studi tiru, peserta belajar langsung dari Saptoyo, pendiri dan penggerak CMC Tiga Warna. Mereka mempelajari perjalanan pengelolaan kawasan, mulai dari membangun kesadaran masyarakat hingga mengembangkan destinasi wisata berbasis konservasi.
Peserta juga mengunjungi sejumlah lokasi wisata seperti Pantai Clungup dan Pantai Gatra. Mereka melihat penerapan sistem pemanduan, pelayanan wisatawan, pengaturan aktivitas, serta upaya menjaga kawasan.
Direktur Eksekutif YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, mengatakan pengalaman CMC menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat Donggala.
“Yang dibawa pulang bukan bentuk wisatanya, tetapi prinsip dan pembelajarannya. Bagaimana kita mengelola kawasan dengan baik, bagaimana masyarakat terlibat, bagaimana wisatawan diatur, dan bagaimana kegiatan ekonomi tidak merusak sumber daya alam,” ujar Nirwan.
Menurutnya, setiap desa memiliki kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan ekologi yang berbeda. Karena itu, masyarakat Lalombi dan Tolongano perlu menyesuaikan pembelajaran dari CMC dengan potensi lokal mereka.
Ekowisata Harus Libatkan Masyarakat
Ketua BPD Desa Lalombi, Hafid, menilai kunjungan tersebut memberikan pemahaman baru tentang pengelolaan wisata.
“Yang harus disiapkan bukan hanya tempatnya, tetapi juga masyarakatnya, aturan pengelolaannya, kelembagaannya, dan bagaimana menjaga lingkungannya,” kata Hafid.
Ia juga mendorong penyusunan peraturan desa untuk memperkuat pengelolaan wisata. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki rasa memiliki terhadap kawasan sejak tahap awal.
Sementara itu, Kepala Desa Tolongano, Udin, melihat peluang besar pada kawasan laguna dan mangrove di wilayahnya.
“Di desa kami, ada laguna dan mangrove yang punya potensi yang luar biasa. Ini yang kami akan dorong menjadi tempat wisata yang tetap menjaga kelestariannya dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat,” ujar Udin.
Udin menegaskan bahwa pengembangan wisata tidak boleh hanya mengejar jumlah pengunjung. Desa juga perlu mengatur pengelolaan agar aktivitas wisata tidak merusak lingkungan.
Belajar Mengatur Jumlah Wisatawan
Salah satu pembelajaran penting dari CMC adalah penerapan wisata berdasarkan daya dukung lingkungan. Pengelola menggunakan sistem reservasi dan kuota kunjungan.
Pantai Tiga Warna memiliki kapasitas 100 orang setiap dua jam. Pantai Clungup dan Pantai Gatra masing-masing memiliki kapasitas 300 orang per hari. Area camping juga memiliki batas maksimal 75 tenda.
Peserta juga mempelajari pengelolaan sampah, pembatasan kendaraan bermotor, sistem wisata berpemandu, serta waktu pemulihan kawasan.
Anggota Pokdarwis Desa Tolongano, Firnawati, mengatakan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan wisata membutuhkan aturan yang jelas.
“Ternyata wisata itu bukan hanya membawa orang datang. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari kebersihan, pelayanan, keamanan, sampai bagaimana menjaga kawasan supaya tetap bagus,” ujarnya.
Dorong Ekonomi dari Produk Lokal
Studi tiru juga memperkenalkan peluang pengembangan produk lokal. Masyarakat dapat terlibat melalui usaha kuliner, kerajinan, produk olahan, jasa pemandu, dan paket wisata berbasis budaya serta kehidupan masyarakat pesisir.
Ketua Kelompok Tolongano Mangrove Laguna (Tomana), Hasdin, menilai potensi tersebut dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
“Potensi masyarakat sebenarnya banyak. Tinggal bagaimana kita mengemasnya menjadi produk yang bisa ditawarkan kepada wisatawan dan tetap sesuai dengan kemampuan masyarakat,” katanya.
Menurut Hasdin, pengembangan wisata harus memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Dengan demikian, konservasi dan peningkatan ekonomi dapat berjalan bersama.
Siapkan Langkah Lanjutan di Donggala
YKL Indonesia berharap studi tiru tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan kunjungan. Peserta akan membawa hasil pembelajaran untuk menyusun langkah pengembangan ekowisata di Lalombi dan Tolongano.
Beberapa agenda yang disiapkan meliputi penguatan kelembagaan, penyusunan aturan pengelolaan kawasan, identifikasi potensi wisata, pengembangan produk lokal, peningkatan kapasitas masyarakat, serta penyusunan paket wisata.
Nirwan mengatakan pengembangan ekowisata harus mampu menjaga keseimbangan antara lingkungan dan ekonomi masyarakat.
“Kalau hanya mengejar ekonomi, lingkungan bisa rusak. Kalau hanya bicara konservasi tetapi masyarakat tidak mendapatkan manfaat, keberlanjutannya juga akan menjadi tantangan. Karena itu, kita harus mencari titik keseimbangan,” katanya.
Melalui pembelajaran dari CMC Tiga Warna, Desa Lalombi dan Tolongano diharapkan mampu membangun model ekowisata yang sesuai dengan potensi lokal. Pengembangan wisata nantinya tidak hanya mengejar kunjungan, tetapi juga menjaga alam dan memperkuat ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
