Celah Hutan Mangrove: Ruang Sempit yang Menyimpan Sumber dan Pelajaran Kehidupan di Atuka

19 Agustus 2026

Oleh: Rofinus Daton Warat, Ishak Samuel Mandosir, Sopater Kapisa, Claudia Risamasu, Ramlan Jamal

Pojok pelabuhan perikanan Pomako, Mimika, Papua Tengah; tempat kapal-kapal long boat ukuran kecil berlabuh. Waktu Indonesia Timur baru mendekati pukul 7:00 pagi. Barang-barang bawaan telah tersusun rapi di atas kapal yang akan membawa kami ke kampung Atuka.

Sepanjang perjalanan masih berkabut dan dingin. Kapal berlayar tenang meninggalkan muara, menyusuri sungai pesisir yang diapit mangi-mangi (hutan mangrove) yang anggun menjulang tegak seolah mengokohkan diri sebagai cerminan paling nyata dari alam pesisir Papua, melindungi kapal yang kami tumpangi dari hembusan angin kencang dari laut Arafura yang datang dari sisi barat.

Deru mesin kapal berkekuatan 40 PK terdengar konstan, berpadu dengan suara riak air yang terbelah di sisi lambung kapal. Sesekali aroma asin angin laut ikut terbawa masuk, mengingatkan bahwa sungai yang kami susuri tak pernah benar-benar jauh dari Laut Arafura. Kapal melaju dengan gerakan ringan mengikuti permukaan air yang sebagian besar tenang tanpa gelombang. Namun ketika berpapasan dengan kapal lain, riak gelombang tiba-tiba datang dan membuat badan kapal sedikit bergoyang. Kami yang duduk di dalamnya pun sesekali menggeser posisi, merapatkan pegangan, lalu kembali menyesuaikan duduk sambil membiarkan perjalanan terus membawa kami semakin mendekati jantung bentang mangi-mangi Atuka.

Bentang hutan mangrove (mangi-mangi) di sepanjang jalur menuju Kampung Atuka, Mimika.

Mangi-mangi yang didominasi oleh Yapako (Rhizophora mucronata) dan Rhizophora apiculata tumbuh berderet membentuk bentang ekosistem pesisir Atuka dari selatan ke utara berdampingan dengan vegetasi hutan tropis dan kebun-kebun kelapa warga.

Sesekali terlihat celah-celah di antara hutan mangrove tersebut menyerupai anak sungai yang di bagian depannya terdapat susunan batang-batang kayu seperti memagarinya.

Celah-celah aliran sungai kecil di hutan mangrove tempat warga Atuka mencari ikan, udang dan karaka (kepiting bakau)

Di antara celah-celah mangrove inilah, alam – hutan mangi-mangi – menyediakan kebutuhan hidup bagi warga Atuka yang telah menjaga hutannya.

“Itu dia pu nama ‘sero’, anak. Sengaja dipasang warga untuk cari ikan, udang dan karaka,” ujar bapak Amatus Tamawiyu, salah satu tetua adat kampung Atuka.

Alat tangkap sederhana ini serupa dengan alat tangkap di tempat lain seperti Sulawesi yang secara nama, fungsi serta cara kerjanya mirip yakni sama-sama memanfaatkan dinamika pasang surut.  Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui peraturan penempatan alat penangkapan ikan mendefinisikan sero sebagai alat penangkapan ikan yang diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap (traps) atau perangkap ikan perintang berbentuk pagar.

Sero adalah perangkap pasif yang bersifat menetap, terbuat dari susunan pagar (bambu, kayu, atau jaring) yang membentuk penaju untuk mengarahkan dan menjebak ikan menuju ruang penampungan utama saat terjadi pasang surut air laut.

Namun bedanya adalah umumnya sero, seperti contoh di Sulawesi Selatan pemasangannya di wilayah perairan dangkal di pesisir, dipasang tegak lurus terhadap garis pantai dan menyerupai anak panah.  Sedangkan di Atuka penempatannya di celah-celah aliran sungai kecil hutan mangrove.  Jika umumnya menggunakan jaring, warga Atuka menggunakan anyaman dari pelepah pohon sagu yang masih muda atau nipah.

“Mama-mama anyam pelepah sagu muda untuk jaring ikan di sero.  Mama-mama dong pintar bikin itu.  Pelepah sagu dorang ambil jauh di dalam mangi-mangi,” kata bapak Amatus yang di usia 73 tahun masih penuh semangat.

Bapak Amatus Tamawiyu, tetua adat kampung Atuka bercerita tentang sero yang dipasang di celah-celah aliran kecil hutan mangrove

Ketika air laut pasang, bapak dan mama, kadang bersama anak-anak mereka, pergi ke sero untuk memasang anyaman pelepah sagu pada susunan kayu yang telah dipasang di celah-celah mangrove. Anyaman itu ditempatkan sedemikian rupa untuk menjebak ikan yang masuk mengikuti air pasang. Pada beberapa celah terdapat dua susunan pagar kayu, satu berada agak ke dalam, sementara yang lainnya dipasang lebih dekat ke bagian luar.

Di sinilah sero tidak hanya menjadi tempat mencari hasil laut. Kebersamaan bapak, mama, dan anak-anak memperlihatkan bagaimana pekerjaan dilakukan sebagai tanggung jawab keluarga. Ada pembagian peran, saling membantu, sekaligus proses belajar yang berlangsung secara alami dari orang tua kepada anak. Di antara akar-akar mangrove dan perubahan pasang-surut, usaha memenuhi kebutuhan hidup juga menjadi ruang untuk menjaga kebersamaan keluarga.

Susunan dahan-dahan kayu berderet menyerupai pagar adalah sero warga Atuka yang tampak dari kejauhan

Ketika air sudah meti (surut), bapak, mama dan anak-anak akan mengambil hasil tangkapan sero.  Ikan-ikan, udang dan kepiting yang layak untuk mereka bawa pulang.  Sebagian untuk dimakan sebagian lagi untuk jual.

“Kalo su meti tinggal pilih-pilih ikan saja terus bawa pulang.  Yang kecil-kecil dilepas biar dia besar dulu,” lanjut cerita bapak Amatus.

Pilihan sederhana untuk melepaskan kembali ikan-ikan berukuran kecil mungkin tidak pernah disebut Amatus sebagai konservasi, pemanfaatan terbatas atau keberlanjutan. Bagi warga Atuka, itu hanyalah cara hidup yang dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyang mereka, mengambil yang cukup hari ini, sembari menyisakan kehidupan untuk hari esok.

Di tempat lain, celah di antara mangrove mungkin hanya terlihat sebagai lorong air yang sempit dan berlumpur. Di Atuka, celah itu adalah dapur untuk makan, tempat belajar, tempat bekerja, dan jejak pengetahuan yang diwariskan dari mama dan bapak kepada anak-anak mereka.

Pengetahuan yang Hidup Bersama Alam

Apa yang dilakukan warga Atuka melalui sero dapat dibaca sebagai bagian dari pengetahuan ekologis lokal (Local Ecological Knowledge), yakni pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang berinteraksi dengan lingkungan dan terus disesuaikan dengan perubahan yang diamati. Kerangka ini banyak dikembangkan dalam kajian Traditional Ecological Knowledge (TEK) oleh Fikret Berkes, Johan Colding, dan Carl Folke melalui artikel “Rediscovery of Traditional Ecological Knowledge as Adaptive Management” pada 2000.

Mereka menunjukkan bahwa pengetahuan lokal tidak berhenti pada kemampuan mengenali alam, tetapi juga mencakup praktik membaca perubahan lingkungan, merespons umpan balik ekologis, serta menyesuaikan cara pemanfaatan sumber daya dari waktu ke waktu.

Sero Atuka memperlihatkan mekanisme itu dalam bentuk yang sederhana: warga membaca pasang dan surut, mengenali celah aliran di antara mangi-mangi, mengetahui kapan ikan masuk, menentukan tempat perangkap, serta memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Dalam perspektif yang lebih luas, praktik ini juga dapat dibaca melalui kerangka social-ecological system (SES) yang dikembangkan antara lain oleh Elinor Ostrom dalam artikel “A General Framework for Analyzing Sustainability of Social-Ecological Systems” (2009). Ostrom menempatkan manusia, sumber daya, aturan, dan ekosistem sebagai bagian-bagian yang saling memengaruhi, bukan dua dunia yang berdiri sendiri.

Di Atuka, sero karena itu bukan sekadar alat menangkap ikan: ia bekerja karena terdapat pertemuan antara mangrove, aliran air, pasang-surut, ikan, material lokal, pengetahuan manusia, dan kebutuhan rumah tangga. Teknologi ini tidak bekerja dengan menaklukkan alam, tetapi dengan membaca dan mengikuti ritmenya.

Pengetahuan semacam itu dapat bertahan karena tidak hanya diketahui, tetapi dipraktikkan dan diwariskan. Ketika bapak, mama, dan anak-anak pergi bersama memasang anyaman pelepah sagu di sero, pekerjaan mencari pangan sekaligus menjadi ruang belajar. Anak melihat bagaimana orang tua memilih tempat, memasang perangkap, membaca perubahan air, dan mengambil hasil; sementara keterampilan menganyam yang dikuasai mama-mama memperlihatkan bahwa pengetahuan ekologis juga tersimpan dalam tangan, pengalaman, dan pembagian peran di dalam keluarga.

Proses ini sejalan dengan kajian Victoria Reyes-García dan kolega dalam artikel “Cultural Transmission of Ethnobotanical Knowledge and Skills: An Empirical Analysis from an Amerindian Society” (2009). Mereka menjelaskan bahwa pengetahuan budaya dan ekologis dapat berpindah melalui beberapa jalur vertikal dari orang tua kepada anak, horizontal di antara kelompok sebaya, dan oblique dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda di luar hubungan langsung orang tua-anak. Dalam konteks Atuka, gagasan tersebut membantu kita memahami bahwa mangrove bukan hanya tempat mengambil sumber daya, melainkan juga ruang pendidikan antargenerasi.

Anak-anak tidak pertama-tama mengenal mangi-mangi melalui buku atau ruang kelas; mereka mengenalnya dengan ikut bekerja, mengamati pasang, memegang anyaman, berjalan di antara akar, dan mendengar penjelasan orang-orang yang lebih dahulu hidup bersama bentang itu. Dengan demikian, yang diwariskan bukan hanya teknik membuat sero, melainkan juga cara membaca alam dan cara menempatkan diri di dalamnya.

Lapisan yang lebih dalam muncul ketika Amatus menjelaskan bahwa ikan berukuran kecil dilepaskan kembali agar dapat tumbuh terlebih dahulu. Pilihan tersebut tidak perlu dipaksakan sebagai bukti bahwa warga Atuka menerapkan “teori konservasi” modern. Justru kekuatannya terletak pada kenyataan bahwa tindakan itu hadir sebagai bagian dari etika keseharian, mengambil yang diperlukan tanpa menghabiskan kemungkinan untuk memperoleh kembali di kemudian hari.

Perspektif ini berdekatan dengan gagasan ecosystem stewardship yang dikembangkan F. Stuart Chapin III bersama Stephen R. Carpenter, Gary P. Kofinas, Carl Folke dan kolega dalam artikel “Ecosystem Stewardship: Sustainability Strategies for a Rapidly Changing Planet” (2010). Mereka melihat stewardship sebagai tindakan manusia yang menjaga kemampuan sistem sosial-ekologis untuk terus menopang kehidupan dan kesejahteraan manusia di tengah perubahan.

Di Atuka, prinsip itu tidak hadir sebagai istilah ilmiah, melainkan sebagai keputusan-keputusan kecil yang terus diulang: menunggu pasang, mengambil saat meti, memilih hasil yang layak, dan mengembalikan yang masih kecil.

Dari sinilah pesan utama cerita memperoleh kekuatannya: keberlanjutan tidak selalu bermula dari aturan tertulis atau bahasa konservasi; ia dapat hidup sebagai kebiasaan, pengetahuan, dan ukuran tentang “cukup” yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, celah mangrove di Atuka bukan semata tempat memperoleh ikan, udang, dan karaka, tetapi ruang tempat hubungan manusia dengan alam dipelajari, dipraktikkan, dan diteruskan.

Sebelum Konservasi Diberi Nama

Negara menghadirkan konservasi melalui berbagai bahasa kebijakannya keberlanjutan, pemanfaatan terbatas, perlindungan ekosistem, pengaturan ruang, hingga sistem zonasi. Semua dituangkan dalam peraturan, peta, dokumen perencanaan, dan batas-batas pemanfaatan yang dibuat agar manusia tidak mengambil lebih banyak daripada yang mampu dipulihkan alam.

Di Atuka, ia hidup dalam pengetahuan tentang kapan pasang datang, di celah mana sero dapat dipasang, kapan hasil dapat diambil, apa yang layak dibawa pulang, dan apa yang sebaiknya dikembalikan ke alam. Ketika Amatus mengatakan bahwa ikan-ikan kecil dilepaskan agar tumbuh lebih dahulu, yang tampak bukan sekadar teknik memilih hasil tangkapan, melainkan suatu ukuran tentang cukup. Mengambil untuk kebutuhan hari ini tanpa menutup kemungkinan kehidupan bagi hari esok.

Menurut Amatus, cara hidup semacam itu telah dijalankan turun-temurun sejak generasi para leluhur mereka. Karena itu, apa yang kini kita kenal melalui bahasa konservasi dan keberlanjutan, bagi masyarakat Atuka tidak selalu hadir sebagai konsep baru yang harus diperkenalkan dari luar; sebagian telah lama dipraktikkan sebagai bagian dari hubungan sehari-hari mereka dengan mangi-mangi, air, dan sumber kehidupan.

Barangkali di sinilah kita perlu belajar melihat masyarakat lokal bukan semata sebagai pihak yang harus diajari cara menjaga alam, tetapi sebagai pemilik pengetahuan yang telah lama mengelola batas antara mengambil dan menyisakan. Kebijakan konservasi tentu tetap penting untuk menghadapi tekanan dan perubahan yang semakin besar, tetapi ia akan kehilangan makna apabila datang dengan bahasa, kategori, dan pembagian ruang yang mengabaikan cara masyarakat setempat memahami bentangnya sendiri.

Di Atuka, celah-celah mangrove bukan ruang kosong yang menunggu diberi fungsi melalui sebuah peta. Ia telah menjadi dapur, tempat bekerja, ruang belajar keluarga, dan jejak pengetahuan yang berpindah dari mama dan bapak kepada anak-anak mereka.

Maka tantangannya bukan sekadar bagaimana membawa konservasi ke Atuka, melainkan bagaimana kebijakan negara mampu mengenali, menghormati, dan memperkuat konservasi yang telah hidup di Atuka jauh sebelum ia diberi nama. Di antara akar mangi-mangi dan air yang datang serta pergi bersama pasang, masyarakat telah menunjukkan satu pelajaran sederhana tetapi mendasar: alam dapat memberi kehidupan selama manusia mengetahui kapan harus mengambil, berapa yang cukup, dan kapan harus menyisakan.

banner 300x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *